Usual
Like Usually
Oleh
: Pensylmonstervania
Sebelum
cerita ini dimulai aku ingin kalian tau bahwa aku bukan siapa-siapa. Aku hanya
mahluk kecil didunia yang besar ini. Tolong garis bawahi itu. Karena itu sangat
penting untuk kedepannya.
‘Hey
owlooz kau tak bisa lakukan itu padanya!’ dia menahan layangan tinjuku. Aku
menatap tajam padanya. ‘apa yang kau lakukan? Lepaskan tangan kotormu dari ku!’
aku menepis tangannya. ‘jangan bersikap jagoan Bi-Bully-Billy!’ meludah
dihadapannya mungkin tindakan yang tepat untuk dilakukan saat ini, namun aku
sadar itu merupakan tindak kriminal yang tak sopan. Tunggu, sejak kapan ada
tindak kriminal yang sopan? Akhirnya, aku pun menyeringai kecil dan meludah
dihadapannya lalu beranjak pergi.
Aku
bukan seorang preman sekolah apa apalagi seseorang yang ditakuti di kelas. Aku
hanya pecundang disana. Pecundang yang memecundangi pecundang lainnya jika itu
perlu dilakukan. Aku bukan seorang siswa yang disenangai para guru, justru
mereka melayangkan tatapan benci padaku seolah berharap aku tak ada bahkan
hilang. Aku juga bukan seorang siswa populer, jarang ada yang mengetahui namaku
dan mungkin aku bisa menghitung dengan jari berapa dari mereka yang mengetahui
namaku. Aku hanya murid biasa dikelas, sungguh..aku tidak berbohong sekarang,
apa kau pikir aku berbohong? Ahh.. jangan sekali-kali berpikir seperti itu saat
aku sedang berbicara. Atau kau… akan kehilangan pikiranmu..
Berjalan
sendirian menyusuri gang kumuh merupakan hal yang biasa bagiku. ‘meong..
meoongg..rrghhh! ngeongg!!’ ‘glomprranggg.. wwrllhh.. wrrhh~’ suara yang biasa pula kudengarkan disetiap
sudut gelap gang ini. Kadang aku berpikir suara-suara itu seperti lantunan nada
yang merdu, yang bisa membuat pikiranmu tenang, dan berpikir bahwa hal yang
terbiasa ada akan menjadi penanda bahwa semua baik-baik saja. Ya walaupun
menurut orang lain menjijikan berada digang seperti ini dengan ditemani
suara-suara bising kucing liar.
Aku
memberhentikan langkahku diujung gang, menatapi pemandangan yang biasa ku lihat
dengan wajah tenang. Tembok kotor penuh coret-coret anak punk. tong sampah reot
yang tak mampu lagi menampung barang kotor dan bahkan barang kotor itu
bertumpukan disampingnya, dengan lalat-lalat berterbangan diatasnya. Pintu yang
engselnya hampir copot itu pun terlihat terlalu lemah untuk dibuka. Aku
tersenyum ‘benar-benar hal yang indah seperti biasanya..’
‘hey kau nak, siapa
namamu?’
‘eoh? O-owlooz bu..’
‘kenapa kau terus
memandang keluar jendela? Apa kau tak memperhatikan pelajaran ibu?’
‘a-anu i-ya bu eh
ti-tidak’
‘apa maksudmu? Jawab pertanyaan
ibu, pada tahun berapa sihir muncul?’
‘eeee…eummm’
Tatapan seisi kelas menuju kearahku,
tatapan mereka seperti seekor harimau yang kelaparan. Terlihat seringai dibalik
mulut penjilat mereka. God! Tak bisakah aku memiliki kekuatan untuk memusnahkan
mereka secara instan? Aku menatap kearah bu guru lagi. Namanya Bu Sacha, dia
merupakan guru mata perlajaran Sihir dikelas kami. Aku menatapnya sendu
berharap ia tau kalau aku menyerah. 1 detik.. 2 detik… dia tetap melihat tajam kearah
ku. Oh aku mohon..
‘baiklah,
lain kali jangan melamun dalam kelas ku, jika kau lakukan itu lagi, akan ku
terbangkan kau ke Alaska owlooz!’ ancamannya terlihat ringan namun aku
mengiyakannya dengan cepat agar tatapan para harimau lapar tak menuju kearah ku
lagi.
‘kita lanjutkan
pelajarannya’
Aku membuka pintu dan ku lihat punggung seorang lelaki separuh baya
sedang memeluk ibu ku. Terlihat pelukannya sangat erat dan.. dia menangis?
Benarkah ada seorang laki-laki setengah baya sedang menangis dalam dekapan ibu
ku? Aku mendekat untuk memastikan.
‘ayah? Kau kah itu??’
aku memandangi punggungnya dengan
seksama.
Tak
ada jawaban..hening.. dan angin dingin mulai merasuki pori-pori kulitku. Aku
mengulurkan tangan untuk menggapai punggung itu. Sedikit, sedikit lagi aku
menyentuh bahunya.
‘ayah..’
Hilang.. tak ada apapun
yang ku raih, tak ada apapun yang kulihat, semuanya hilang.
‘itu hanya ilusi nak,
kau mengalaminya lagi? Kemarilah, ibu sudah siapkan makanan untukmu..’
Aku
menoleh kearah datangnya suara lembut itu, aku lihat ibu ku sedang menyiapkan
makanan dimeja makan keroposnya. Aku menghampirinya, manaruh tas ditempat
biasanya dan duduk di tempat biasanya pula.
‘bu,
kenapa hal itu terjadi lagi padaku?’ aku menatapnya dengan harapan mendapat
jawaban yang agak memuaskan dan kali
ini.. untuk pertama kalinya aku berharap tidak seperti biasanya.
‘bukankah itu hal biasa
yang sering terjadi padamu sejak dulu?’
Ah
sial.. itu jawaban yang biasa keluar darinya. ‘ tapi bu.. kenapa kali ini
terlihat sangat nyata? Maksudku, aku melihat ayah memelukmu sembari menangis
dan.. aku bisa merasakan kesedihannya.. dia.. dia terlihat sangat kelelahan dan
sangat—
‘hentikan! cuci tangan
mu dan makanlah seperti biasanya’
Aku
memandang ibu ku yang terlihat menyembunyikan sesuatu. Kali ini tak seperti
biasanya, dia terlihat ketakutan dan.. memotong pembicaraanku, ini benar-benar
hal tak biasa…
‘owlooz kau sudah
makan? Ayo kekantin bersama kami..’
‘Owlooz tugasmu sudah
selesai?’
‘Owlooz kami mengadakan
pesta, kau ingin bergabung?’
‘Owlooz bagaimana
penelitian mu? Apa kau sudah menemukan titik terang?’
‘Owlooz menurutmu
dimana Fyper si burung jelek itu berada?’
“Owlooz dimana rumah
mu?’
‘Owlooz…’
‘Owlooz..’
‘Owlo..’
‘Owl..’
Hentikan!
Sudah cukup! Aku lelah dan kalian takkan mengerti. Aku tau kalian takkan
mengerti. Jadi ku mohon sudah, hentikan! Dari awal, aku memang tak berniat
untuk memberitahu kalian. Karena kalian takkan mengerti.. sungguh, ini
benar-benar diluar nalar kalian, kalian takkan menjangkaunya, kalian takkan mengjangkau
keberadaanku, kalian takkan… pernah menjangkau ku.. aku minta maaf.. sampai
jumpa..
“Secarik
kertas bertuliskan permintaan maaf ditemukan dijasad seorang remaja laki-laki
yang tidak diketahui identitasnya. Jasad ini ditemukan disebuah gang kumuh dikota
Salem Negara bagian Massachusetts Amerika Serikat. Setelah diselidiki, ternyata
jasad yang ditemukan dalam keadaan membusuk ini telah berumur ratusan tahun
tepatnya 411 tahun. Mengherankan, jasad
yang berumur 411 tahun ini baru ditemukan sekarang dalam keadaan membusuk namun
tetap utuh. Ini benar-benar tak biasanya terjadi dan beberapa orang menganggap
jasad tersebut merupakan jasad orang baik. Karena umurnya yang telah ratusan,
banyak yang mengira bahwa ia tak memiliki keluarga. Sekian laporan dari saya, Mellany Johnson
undur diri, sampai jumpa disiaran langsung CNN berikutnya.
-To
Be Continued- -Pensylmonstervania-